Selama kunjungannya, Kim Jong Un menegaskan perluasan pembaruan sarana pengolahan senjata serta peningkatan dasar teknologi industri militer guna menjawab tuntutan operasional Angkatan Bersenjata Rakyat Korut (KPA). Pejabat menyampaikan laporan mengenai hasil produksi roket dan amunisi meriam selama tahun 2025, termasuk pencapaian di kuarter keempat.
"Dasar teknis perusahaan produsen harus dikuatkan secara proporsional untuk meningkatkan kemampuan produksi secara keseluruhan," kata Kim Jong Un, dilaporkan oleh KCNA.
Kim Jong Un juga menginstruksikan penyusunan strategi produksi yang bertujuan untuk perkembangan tahun 2026, dengan perhatian utama terhadap kebutuhan jangka panjang angkatan rudal serta artileri. Ia menilai bahwa modernisasi sektor senjata—dengan cara membangun infrastruktur baru atau meningkatkan kemampuan pabrik lama—merupakan hal penting dalam memperkuat pertahanan militer Korut.
Bukan disebutkan oleh KCNA mengenai tempat serta jam kedatangan Kim Jong Un ke instalasi senjata itu. Tetapi, berita ini hadir pada saat meningkatnya aktivitas militer Korea Utara selama beberapa bulan belakangan.
Keesokan harinya, KCNA juga menyebut bahwa Kim Jong Un mengunjungi proyek pengembangan kapal selam strategis tenaga nuklir dengan bobot kira-kira 8.700 ton yang memiliki fasilitas untuk melepaskan roket. Proyek kapal selam nuklir ini pertama kalinya diperkenalkan pada bulan Maret tahun 2025.
Di laporan tersendiri, Kim Jong Un menyebut rencana Korps Selatan dan Amerika Serikat dalam membuat kapal selam bersenjata nuklir sebagai tindakan provokatif yang dianggap bisa merusak kestabilan wilayah. Pernyataan ini semakin mempertegas indikasi bahwa pembuatan roket Negara Koreanya serta peningkatan kemampuan alat perang strategis bakal terus dipercepat.
Tindakan terkini Kim Jong Un ini dilihat sebagai komponen dalam strategi jangka panjang Korsel Utara untuk memperkuat posisi militer serta menigkatkan kapasitas pertahanan menghadapi situasi keamanan regional yang semakin rumit.
0 Komentar