Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Harga Kopi Naik di Solo Akibat Maraknya Coffee Shop, Sembako Tetap Stabil

Ringkasan Berita:
  • Harga kebutuhan pokok di Surakarta cenderung tetap pada saat perayaan Tahun Baru 2026.
  • Namun demikian, harga biji kopi malah meningkat pada peralihan tahun ini.
  • Kepala Daerah Surakarta, Respati Ardi menyebut kenaikan harga biji kopi disebabkan oleh maraknya kedai kopi di wilayah tersebut.

Kepala Daerah Surakarta, Respati Ardi, memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan harga biji kopi yang baru-baru ini terjadi di Kota Surakarta.

Menurutnya, peristiwa ini tak terlepas dari berkembangnya pesat warung kopi yang bermunculan di berbagai penjuru kota.

Respati menyampaikan bahwa secara keseluruhan situasi ketersediaan pangan untuk keperluan dasar masih termasuk dalam kondisi yang stabil.

Usaha mengatur harga dengan melakukan pasar murah dianggap cukup efisien dalam mempertahankan kestabilan.

Namun, beberapa jenis barang masih memerlukan pengawasan lebih lanjut mengingat kemungkinannya menimbulkan dampak pada tingkat inflasi wilayah.

"Kami fokus pada bawang merah, bawang putih, serta cabai. Ketiga barang tersebut merupakan prioritas utama lantaran berkontribusi terhadap inflasi. Selain itu, perkembangan kedai kopi juga ikut memengaruhi tingkat inflasi dalam perekonomian kami," kata Respati Ardi ketika dikunjungi hari Jumat (2/1/2025).

Kedai Kopi Terus Bertambah

Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo menyebutkan bahwa jumlah warung kopi di tahun 2023 mencapai 109 buah.

Jumlahnya semakin naik seiring dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap kebiasaan menikmati kopi.

Pada tahun 2025, perkembangan warung kopi mulai tampak jelas.

Hanya di Jalan Slamet Riyadi sudah terdapat 23 warung kopi yang berjalan, belumlah termasuk daerah-daerah lainnya di Kota Surakarta.

"Secara keseluruhan terdapat 174 kafe baru, dengan umumnya memiliki usia yang masih cukup muda," ujarnya.

Respati mengatakan, maraknya warung kopi tidak dapat dipisahkan dari perubahan pola hidup masyarakat, baik warga setempat maupun penduduk baru.

Penggemar kafe semakin meningkat, sehingga memicu peningkatan permintaan terhadap biji kopi, yang akhirnya menyebabkan naiknya harga.

"Mungkin ini berkaitan dengan tren. Pola penggunaan yang terlalu boros tidak bagus. Harga biji kopi saat ini sudah sangat mahal. Saya menerima banyak masukkan lantaran permintaannya tinggi, akibatnya timbul harga-harga yang sedikit tidak wajar," katanya.

Dia berharap peningkatan kegiatan perekonomian dari sektor warung kopi tetap disertai dengan pengawasan harga sehingga tidak menyebabkan tekanan inflasi yang terlalu besar di Kota Solo.

Kolaborasi dengan Wilayah Produksi Kopi

Pemkot Surakarta sedang mempertimbangkan kolaborasi dengan wilayah produsen kopi, misalnya Kabupaten Temanggung, guna menstabilkan harga biji kopi.

"Agar harga tetap stabil dan tidak saling merusak. Jika pertumbuhan di satu sektor terlalu signifikan, hal itu akan berdampak negatif. Oleh karena itu, pemerintah perlu bertindak sebagai mediator," katanya.

Selain masalah biaya, Respati juga mengemukakan pengaruh lain akibat menjamurnya kedai-kedai kopi, yakni kekurangan ruang untuk parkir.

"Penertiban tempat parkir saat ini sedang kami susun. Pada tahun ini, kami menerapkan konsep park and ride. Selanjutnya, bekas-bekas area parkir akan bekerja sama dengan pihak perusahaan swasta yang memiliki tanah kosong agar bisa digunakan sebagai lokasi parkir," tutupnya.

(TribunTrends/Kompas)

Hindari melewatkan informasi-informasi yang tidak kurang menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook.

Posting Komentar

0 Komentar