Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

51 Negara yang Menghancurkan Gaza

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

Ants.CO.ID, JAKARTA -- Saat sebuah bangunan roboh karena meledak, fokus kami umumnya terarah pada ledakan tersebut. Kami melihat nyala api, kabut asap, serta sisa-sisa puing. Kami menyaksikan para korban yang lari keluar. Kami juga melihat kendaraan ambulance tiba dan meninggalkan lokasi.

Namun letupan hanya merupakan bagian akhir dari kisah yang jauh lebih panjang. Sebelum bom meledak di Jalur Gaza, seseorang telah merencanakannya. Terdapat pabrik yang memproduksi bagiannya. Ada perusahaan yang mengirimkan bahan tersebut. Ada negara yang memberikan izin ekspor. Ada kapal yang membawanya. Dan ada pelabuhan yang menerima kiriman itu.

Secara singkat, tiap ledakan memiliki masa lalu tertentu. Inilah yang ingin diungkap melalui penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh Al-Jazeera.

Setelah mengungkap jutaan data impor senjata milik Israel, mereka tidak hanya bertanya seberapa besar jumlah senjata yang masuk. Mereka pergi lebih dalam lagi. Mereka berusaha mengetahui asal senjata tersebut, siapa saja pemasoknya, serta bagaimana jalur distribusi senjata ini terus beroperasi meskipun seluruh dunia menyaksikan keruntuhan di Gaza.

Hasilnya sangat mengejutkan. Pertempuran rupanya tidak terbatas hanya di Gaza. Perselisihan juga terjadi dalam pertemuan perusahaan, wilayah industri, kantor pajak, serta jalur perdagangan global.

Analisa yang dilakukan oleh Al-Jazeera mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menjadi penyuplai utama alat-alat militer bagi Israel selama konflik di Palestina. Angka ini menyumbang lebih dari 42 persen dari total pengimporan senjata yang dicatat.

Pada peringkat kedua adalah India dengan sekitar 26 persen. Diikuti oleh Rumania sebesar sekitar 8 persen, Taiwan sebanyak kira-kira 4 persen, serta Republik Ceko dengan angka sekitar 3 persen. Kelima negara tersebut berkontribusi melebihi dua pertiga total nilai impor senjata yang masuk ke Israel.

Tetapi ceritanya tidak hanya melibatkan kelima negara tersebut. Penyelidikan Al-Jazeera mengungkap bahwa setidaknya 51 negara dan daerah otonom memiliki hubungan dengan rantai pasokan militer menuju Israel sepanjang konflik berlangsung.

Ukuran sumbangan memang bervariasi. Beberapa memberikan kontribusi dengan besaran yang sangat besar. Sementara ada juga yang nominalnya cukup kecil. Tetapi seluruhnya terdaftar sebagai bagian dari satu jaringan yang sama.

Amerika Serikat, India, Rumania, Taiwan, serta Republik Cekoslowakia hanya merupakan beberapa negara di puncak daftar tersebut. Di bawahnya ada nama-nama lain yang bisa membuat banyak orang kaget.

Terdapat informasi bahwa Tiongkok selama masa konflik memiliki catatan ekspor terkait militer ke Israel dengan nilai kisaran 71,1 juta shekel atau di atas Rp320 miliar.

Menariknya, sekitar 83 persen dari angka itu terjadi setelah Pengadilan Internasional (ICJ) memberi peringatan tentang kemungkinan terjadinya pembunuhan massal di Gaza pada 26 Januari 2024.

Singapura memiliki nilai sekitar 20,2 juta shekel atau kira-kira Rp91 miliar. Sebanyak 88 persen dari angka tersebut telah dicatatkan setelah keputusan Mahkamah Internasional (ICJ).

Terdapat satu unit di Swiss bernilai sekitar 9 juta shekel atau kira-kira Rp40 miliar. Hampir keseluruhan, yaitu sekitar 98 persen, terjadi pasca keputusan ICJ.

Terdapat negara Turki, di mana penduduknya kerap melakukan demonstrasi penentangan terhadap Israel. Meskipun demikian, angka impor Israel mencatatkan bahwa barang-barang yang berkaitan dengan militer dari Turki bernilai kisaran 7,5 juta shekel atau sekitar Rp34 miliar.

Sekitar 79 persen dari impor dilakukan setelah pengambilan keputusan oleh Mahkamah Internasional. Namun, Presiden Recep Tayyip Erdogan, yang merupakan tokoh dengan pendirian paling tegas dalam mengecam Israel, menyatakan bahwa seluruh pembelian senjata ke negara tersebut telah berhenti sepenuhnya sejak tahun 2023.

Terdapat pula Brazil yang bernilai sekitar 8,7 juta shekel atau mendekati Rp40 miliar. Sebanyak 80 persen kejadian tersebut terjadi setelah adanya peringatan dari Pengadilan Internasional.

Di samping itu, tercatat pula Negara Bagian Rendah, Bulgaria, Korsel, Vietnam, Kanada, Perancis, Italia, Jerman, Britania Raya, Spanyol, Azerbajjan, serta ratusan negara lainnya yang nama mereka muncul di dalam data impor Israel yang telah ditinjau oleh Al-Jazeera.

Daftar ini bukan berarti semua negara tersebut memiliki tingkat partisipasi yang sama.

Beberapa pihak menyediakan pasokan dalam volume besar. Beberapa lainnya hanya menyerahkan sedikit saja. Ada yang mengklaim belum menerbitkan izin baru. Ada juga yang menjelaskan bahwa beberapa kiriman berasal dari perjanjian sebelumnya. Terdapat pula yang menyebutkan bahwa barang tertentu tidak masuk dalam kategori yang dilarang oleh mereka.

Namun demikian, satu hal yang tidak dapat disangkal. Nama-nama mereka tercatat dalam data tersebut.

Nomor-nomor tersebut relevan karena menggambarkan bahwa perang kontemporer tidak muncul secara terpisah. Sebaliknya, ia lebih seperti pohon raksasa dengan akar yang merembet ke berbagai penjuru. Jika satu ranting rusak di Gaza, akarnya dapat berjarak ribuan kilometer dari sana.

Salah satu penemuan paling menarik berasal dari India. Al-Jazeera mendapatkan dokumen bea cukai yang mengungkap keterkaitan dagang antara beberapa perusahaan di India dengan perusahaan pertahanan Israel. Dokumen tersebut memberikan wawasan langka bagi masyarakat luas tentang jalannya berbagai komponen militer sebelum akhirnya menjadi bagian dari sistem senjata.

Sebagai contoh, perusahaan Kalyani Rafael Advanced Systems dilaporkan telah mengirimkan 554.120 unit komponen pemecah ke Rafael Advanced Defense Systems di Israel. Menurut pakar yang dimintai pendapat oleh Al-Jazeera, komponen tersebut umum dipakai dalam amunisi yang melepaskan serpihan logam ketika meledak.

Lima ratus lima puluh empat ribu satu ratus dua puluh unit. Angka ini terdengar seperti data persediaan di gudang. Namun setiap unit pada dasarnya adalah komponen dalam suatu sistem yang dibuat untuk menciptakan kerusakan.

Perusahaan lainnya, Kalyani Strategic Systems, dilaporkan telah mengirimkan 50 unit tubuh peluru meriam berukuran 155 milimeter ke IMI Systems di Israel. Pakar menyatakan bahwa komponen tersebut adalah kulit luar dari peluru yang akan ditempati bahan peledak.

Selanjutnya terdapat perusahaan Economic Explosives Limited yang mengirimkan 99.400 unit pellet pemicu. Fungsi komponen ini cukup sederhana namun sangat penting. Bagian tersebut berperan dalam memicu ledakan yang lebih kuat.

Terdapat juga perusahaan Ashoka Manufacturing yang mengirimkan ratusan bagian logam untuk amunisi.

Segala aktivitas tersebut telah dicatat dengan formal. Dilakukan secara terang-terangan. Bukan dilakukan dalam tempat yang rahasia. Tidak melibatkan kelompok kejahatan.

Malahan itu adalah inti pembelajaranya. Perang abad ini tidak selalu terjadi dalam kegelapan. Sebagian besar berlangsung melalui proses yang sah, dokumen yang memadai, serta sistem perdagangan yang formal.

Oleh karena itu, saat kita memandang sisa-sisa bangunan di Gaza, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bagian terakhir dari sebuah rangkaian yang begitu panjang. Rangkaian ini mencakup pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, pelabuhan, kapal-kapal, kontrak-kontrak, serta negara-negara yang bahkan tidak pernah terlihat dalam foto-foto wilayah pertempuran.

Beberapa orang menganggap perang sebagai kejadian militer. Sementara itu, bagi yang lain, perang merupakan hal terkait logistik.

Sebagai longgarnya produksi di pabrik, sebagai lama kontrak masih berlangsung, serta sepanjang jalur suplai tetap bisa digunakan, maka perang senantiasa akan mampu bertahan.

Itu adalah ironi besar dari era modern. Manusia mampu menciptakan jaringan perdagangan dunia yang sangat efisien.

Barang bisa dipindahkan antar benua secara cepat dan akurat. Namun, jaringan yang sama ternyata juga mampu mengirimkan bagian-bagian yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan di suatu kota.

Sebelumnya kita selalu mencari tahu siapa yang melemparkan bom ke Gaza. Penyelidikan Al-Jazeera membuka pertanyaan yang jauh lebih menyulitkan: siapa yang membuat senjata tersebut, siapa yang mengirimkannya, siapa yang memberi izin agar bisa sampai ke sana, dan siapa yang memilih untuk diam saat semuanya terjadi.

Pada akhirnya, sebuah ledakan tidak muncul secara mandiri. Ia merupakan buah dari karya beberapa tangan yang belum saling kenal, namun berkumpul dalam satu tujuan: menjaga agar rantai pasokan selalu berjalan lancar.

(Bersambung)

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 11/6/2026

Posting Komentar

0 Komentar