Ringkasan Berita:
- Perang Iran telah memasuki hari kesembilan puluh tujuh dengan situasi tegang yang terus berlangsung pada beberapa wilayah pertempuran.
- Teheran mengungkapkan bahwa diskusi dengan Amerika Serikat (AS) masih belum memberikan perkembangan signifikan, sedangkan Israel kembali melakukan penyerbuan pesawat tak berawak ke Lebanon walaupun perjanjian damai sudah diperpanjang.
- Pada waktu bersamaan, serangan roket Iran terhadap Kwait mengakibatkan satu korban jiwa dan ratusan luka-luka.
ANTS Konflik antara Iran dan Israel memasuki hari ke-97 pada hari Kamis (4 Juni 2026), dengan berhentinya usaha diplomatik dan semakin tingginya ketegangan di wilayah Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyebut bahwa diskusi dengan Amerika Serikat (AS) belum membuahkan perubahan signifikan meskipun saluran komunikasi antara dua negara tetap tersedia.
Al Jazeera Teheran juga menyatakan bahwa tekanan militer atau hukuman tambahan tidak akan membuat Iran merombak kebijaksanaannya.
Iran Mengatakan Perundingan Masih Tidak Berjalan Maju
Di dalam pernyataannya, Araghchi menyebutkan bahwa hubungan diplomatik dengan Washington tetap berjalan.
Namun, menurutnya masih belum ditemukan inovasi yang mampu membawa kepada perjanjian baru.
Pada waktu yang sama, Iran membenarkan serangannya terhadap beberapa sekutu Amerika Serikat di wilayah Teluk.
Teheran menggambarkan tindakan itu sebagai upaya perlindungan diri setelah instalasi penting mereka mendapat serangan.
"Saluran komunikasi masih tersedia, namun belum diperoleh perkembangan signifikan dalam diskusi tersebut," ujar Araghchi.
Serangan yang dilakukan Iran terhadap Kuwait menewarkan satu korban jiwa
Kuwait merupakan salah satu negara yang secara langsung mengalami dampak akibat meningkatnya ketegangan konflik tersebut.
Pihak pemerintah Kuwait merilis bahwa serangan roket dan pesawat tak berawak Iran yang terjadi pada hari Rabu (3 Juni 2026) menargetkan terminal bandara internasional negaranya.
Setidaknya satu orang dikabarkan meninggal dunia dan lebih dari 60 orang lainnya cedera.
Pihak berwenang setempat juga mengungkapkan adanya kerusakan fisik yang parah akibat serangan itu.
Israeil dan Libanon Menyetujui Perjanjian Damai
Dalam kondisi yang semakin memburuk, Amerika Serikat merilis pernyataan bahwa Israel dan Lebanon sepakat untuk menerapkan gencatan senjata terbaru.
Perjanjian tersebut tercapai setelah beberapa putaran negosiasi yang dilangsungkan di Washington.
Menurut perjanjian yang telah disepakati, kelompok Hezbollah diwajibkan untuk berhenti melakukan semua serangan terhadap daerah Israel.
Anggota pasukan Hezbollah harus menarik diri dari daerah sebelah selatan Sungai Litani.
Wilayah keamanan yang baru akan dikuasai sepenuhnya oleh pasukan militer Libanon.
Namun demikian, para pakar berpendapat bahwa pelaksanaan perjanjian ini masih menghadapi sejumlah kendala.
Pengalaman terhadap gencatan senjata yang lalu menggambarkan bahwa keduanya sering saling menyalahkan atas pelanggarannya masing-masing.
Israel Kembali Serang Lebanon
Tidak lama setelah perjanjian diumumkan, Israel kembali melakukan serangan pesawat tanpa awak ke daerah Selatan Libanon.
Lembaga berita Nasional Libanon mengabarkan bahwa sebuah kendaraan menjadi target penyerangan di Jalan Zefta-Kfarwa.
Beberapa penduduk dilaporkan mengalami cedera.
Serangan ini menimbulkan keraguan terkait keefektifan perjanjian perdamaian yang baru saja ditandatangani.
Trump Berharap Perjanjian Dapat Diselesaikan
Presiden AS Donald Trump menunjukkan harapan mengenai kemungkinan tercapainya perjanjian antara pihaknya dan Iran.
Menurut Donald Trump, pembicaraan yang sedang berlangsung berjalan dengan sangat lancar.
Dia bahkan mengatakan kemungkinan pencapaian kesepahaman dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang.
"Persetujuan mungkin tercapai pada akhir minggu ini. Namun siapa yang tahu?" ujar Trump.
Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat Mengingatkan Trump Terkait Konflik dengan Iran
Di Washington, Kongres Amerika Serikat melakukan tindakan yang tidak biasa.
Ada 215 anggota DPR yang menyatakan dukungan terhadap resolusi yang menuntut Presiden Trump mengajukan izin kepada Kongres sebelum melancarkan tindakan militer terhadap Iran.
Ada sekitar 208 anggota yang menentang proposal tersebut.
Empat anggota dari Partai Republik memilih untuk menyatu dengan partai Demokrat dalam mendukung resolusi tersebut.
Walaupun kemungkinan besar rancangan ini akan dijadikan sebagai undang-undang sangat rendah, voting tersebut merupakan pengingat politik pertama yang berhasil dilakukan oleh DPR untuk menentang keputusan Presiden Trump yang mengizinkan partisipasi bersama dengan Israel dalam serangan tanpa izin dari Kongres.
Gaza Tetap Membara
Di sisi lain, kondisi di Gaza belum bisa dikatakan aman.
Paling sedikit sembilan penduduk Palestina dilaporkan meninggal dunia sebagai hasil dari serangan udara Israel yang menyerang area pemukiman di malam hari.
Para saksi mata menyebutkan bahwa beberapa anggota keluarga sedang tertidur saat penyerbuan berlangsung.
Petugas evakuasi masih melanjutkan upaya mencari para korban di bawah puing-puing gedung serta kobaran api.
Di pihak lain, penyelidikan gambar satelit Al Jazeera mengungkap bahwa tentara Israel terus meningkatkan keberadaannya di Jalur Gaza meskipun perjanjian damai yang dikeluarkan bulan Oktober tahun lalu masih berlaku.
Penelitian ini menemukan sekitar 40 titik pangkalan militer Israel di kawasan Jalur Gaza.
Delapan dari mereka ternyata dibangun setelah perjanjian damai ditetapkan.
Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa ketegangan di wilayah masih tetap ada walaupun berbagai usaha diplomatik senantiasa dilaksanakan.
(ANTS/Andari Wulan Nugrahani)
0 Komentar