Ants Banyak orang menganggap bahwa rasa percaya diri merupakan sifat bawaan dari kelahiran. Namun, ilmu psikologi membuktikan bahwa keyakinan diri umumnya muncul seiring dengan pertumbuhan usia serta pengalaman dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang dulu bersifat pendiam, rentan khawatir, atau selalu merasa takut akan penilaian orang lain dapat berubah menjadi individu yang lebih tenang, jelas, dan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Perubahan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Terdapat sebuah proses yang cukup lama yang dipengaruhi oleh berbagai pengalaman, kegagalan, kesuksesan, dan penguasaan diri yang lebih mendalam. Yang menarik adalah, individu-individu yang mulai memiliki rasa percaya diri tinggi umumnya mengalami perubahan karakteristik yang mirip.

Menurut laporan Expert Editor hari Minggu (7/6), ada delapan sifat karakter yang umum muncul berdasarkan psikologi.

1. Mereka Sudah Tidak Lagi Membutuhkan Persetujuan Orang Lain

Pada masa mudanya, kebanyakan orang merasa membutuhkan penghargaan dari kelompok di sekitarnya. Pujiannya, verifikasi, serta persetujuan orang lain kerap jadi sumber utama keyakinan diri mereka.

Namun, dengan bertambahnya umur, para individu yang semakin percaya diri perlahan sadar bahwa mereka tidak bisa membuat semua orang bahagia.

Psikologi menggambarkannya sebagai perkembangan dari lokus kontrol internal, yakni kecenderungan seseorang mengevaluasi dirinya sendiri melalui standar yang ditetapkan oleh diri sendiri, bukan berdasarkan pandangan orang lain.

Mereka mulai berpikir:

Aku tidak perlu dicintai oleh siapa pun." "Tidak wajib aku disenangi oleh semua orang." "Ku tidak harus menjadi favorit bagi setiap orang." "Bukan keharusan bagiku untuk disukai seluruh masyarakat." "Tidak penting jika semuanya menyukaiku.

Hal utama adalah saya menjalankan hal yang tepat.

Opini orang lain bukanlah penentu harga diri saya.

Sebagai akibatnya, mereka menjadi lebih tenang serta sulit dipengaruhi oleh kritikan yang tidak konstruktif.

2. Mereka lebih merasa nyaman dengan diri sendiri

Orang yang makin percaya diri sudah tidak merasa perlu bersikap palsu agar diakui.

Mereka tidak begitu giat membangun image yang ideal. Justru, mereka mengakui keunggulan serta kelemahan dirinya secara lebih objektif.

Berdasarkan pendekatan psikologi humanistik yang dikemukakan oleh Carl Rogers, pengakuan terhadap diri sendiri (self-acceptance) menjadi dasar utama untuk menjaga kesehatan jiwa serta meningkatkan kepercayaan diri yang positif.

Karena itu, mereka:

Tidak malu mengakui kesalahan.

Tidak merasa perlu selalu tampak luar biasa.

Jangan terlalu mengukur kehidupannya dengan orang lain.

Mereka menyadari bahwa bersifat asli lebih bermakna dibandingkan tampak sempurna.

3. Mereka Mempelajari Cara Berkata "Tidak"

Salah satu perubahan terlihat jelas pada seseorang yang mulai lebih percaya diri ialah kemampuannya dalam menentukan batas-batasan.

Pada masa mudanya, banyak orang kesulitan menolak keinginan seseorang lantaran khawatir dianggap terlalu memihak diri sendiri atau tidak disenangi oleh orang lain.

Namun, seiring bertambahnya umur, mereka memahami bahwa berkata "ya" pada setiap permintaan bisa membuat tenaga terkuras serta mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Psikologi menggambarkan kemampuan tersebut sebagai sikap percaya diri atau keberanian dalam bersikap.

Seseorang yang memiliki rasa percaya diri dapat mengucapkan:

"Maaf, saya tidak bisa."

Saya perlu beberapa saat untuk sendirian." "Kebutuhan saya adalah memiliki ruang pribadi." "Saya butuh kesempatan untuk mengisolasi diri sejenak." "Aku perlu waktu untuk berada di tempat sendiri." "Penting bagi aku untuk punya momen khusus untuk diriku sendiri.

Saya berbeda pendapat dengan pernyataan tersebut." "Tidak sepakat dengan opini yang disampaikan." "Pandangan ini tidak saya dukung." "Persepsi tersebut tidak sesuai dengan apa yang saya yakini." "Aku tidak sependapat dengan pendapat itu.

Dan mereka menyampaikannya tanpa rasa bersalah yang terlalu berlebihan. Atau: Mereka berkata demikian tanpa merasa bersalah secara berlebihan. Atau: Mereka mengucapkannya dengan tidak ada perasaan bersalah yang berlebihan. Atau: Tidak ada kekhawatiran atau kesalahan batin ketika mereka mengungkapkannya.

4. Mereka Tidak Begitu Khawatir Akan Kegagalan

Pengalaman dalam kehidupan menunjukkan bahwa kegagalan tidak berarti ujung dari semua hal.

Seseorang yang semakin percaya pada dirinya sendiri menyadari bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan. Terkadang ketidakberhasilan justru menjadi pembelajaran paling berharga.

Berdasarkan konsep *growth mindset* yang dikemukakan oleh psikolog Carol Dweck, orang dengan pola pikir perkembangan memandang kesalahan sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai tanda ketidakmampuan mereka.

Oleh karena itu, mereka menjadi lebih percaya diri:

Memulai sesuatu yang baru.

Mengambil peluang yang menantang.

Keluar dari zona nyaman.

Mereka menyadari bahwa ketakutan tidak boleh menghambat proses pertumbuhan mereka.

5. Mereka Merasa Lebih Tenang Ketika Menghadapi Pengkritikan

Saat kepercayaan diri belum kuat, kritik sering kali diterima sebagai bentuk penyerangan personal.

Namun, individu yang semakin dewasa secara emosional dapat membedakan antara kritik yang konstruktif dan kritik yang hanya bertujuan merendahkan.

Mereka tidak segera merasa kesal atau bersikap membela diri.

Sebaliknya, mereka bertanya:

Adakah sesuatu yang dapat saya pelajari dari sini?" "Apa saja yang mungkin saya kuasai dari ini?" "Bisakah saya mengambil pelajaran apa pun darinya?" "What can I learn from this?" "Apakah ada pembelajaran yang bisa saya ambil dari situasi ini?

Mengapa kritikan ini dianggap valid?" "Benarkah penilaian tersebut tepat?" "Apa dasar dari kritik ini?" "Tidak adakah kebenaran dalam kritik itu?" "Bisakah kritik ini dipercaya?

Apakah aku harus merombak sesuatu?" "Mengapa saya wajib memperbaiki sesuatu?" "Apa yang perlu saya ubah?" "Sudah saatnya saya melakukan perubahan?" "Bisakah saya tetap seperti ini saja?

Jika kritikan itu tidak sesuai, mereka bisa menghiraukannya tanpa membuatnya merusak rasa percaya diri.

6. Mereka Tidak Lagi Mengukur Kehidupan Sendiri Berdasarkan Orang Lain

Sosial media menyebabkan banyak orang tertangkap dalam kebiasaan mengukur dirinya sendiri dengan orang lain.

Namun, individu yang semakin percaya pada dirinya sendiri menyadari bahwa setiap manusia memiliki jalur kehidupan yang berbeda-beda.

Mereka sadar bahwa:

Keberhasilan tidak memiliki standar yang seragam.

Bukan segala sesuatu yang tampak dari luar menggambarkan keadaan sebenarnya.

Mengadankan diri tanpa henti hanya akan mengurangi perasaan bersyukur.

Penelitian psikologi sosial mengungkapkan bahwa terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain bisa menyebabkan peningkatan rasa cemas serta pengurangan tingkat kebahagiaan dalam hidup.

Oleh karena itu, mereka lebih memperhatikan perkembangan diri sendiri dibandingkan bersaing dengan sesama manusia.

7. Mereka Semakin Pilih Kualitas Dalam Menghadapi Lingkungan dan Relasi

Semakin berkembangnya usia, seseorang yang semakin percaya diri mulai memahami bahwa mutu hubungan lebih berharga dibandingkan banyaknya jumlah teman.

Mereka sudah tidak merasa wajib menjaga hubungan yang dipenuhi dengan dramatisasi, pengaruh buruk, atau energi negatif.

Di sisi lain, mereka lebih memilih berada di dekat orang-orang yang:

Menghargai mereka.

Memberikan dukungan.

Membantu mereka berkembang.

Penelitian psikologis mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan sosial berdampak signifikan pada kebahagiaan emosional serta tingkat keyakinan diri seseorang.

Oleh karena itu, mereka tidak ragu untuk membatasi kedekatan dengan hubungan yang merugikan.

8. Mereka lebih menghargai ketenangan daripada keinginan untuk selalu benar

Pada masa mudanya, banyak orang merasa wajib menang dalam setiap debat atau membuktikan kebenaran pendiriannya sendiri.

Namun, dengan bertambahnya umur, mereka yang semakin percaya diri memahami bahwa tidak segala sesuatu harus dipertentangkan.

Mereka menyadari bahwa kedamaian jiwa lebih bernilai dibandingkan keberhasilan sementara.

Mereka mulai berkata:

Kita bisa memiliki pandangan yang berbeda-beda." "Bukan masalah jika kami berselisih pendapat." "Mungkin tidak menjadi masalah meskipun kita mempunyai perbedaan pendapat." "Saya tidak keberatan bila kita memiliki sudut pandang yang berlainan." "Tidak apa-apabila terjadi perbedaan dalam opini kita.

Aku tidak harus memperlihatkan apapun pada siapa saja.

Saya cenderung mengutamakan perdamaian dibandingkan dengan perselisihan yang tak penting.

Bukanlah pertanda ketidakmampuan, tetapi merupakan indikasi kematangan emosional.

Kepercayaan diri sejati berasal dari dalam hati seseorang

Dari sudut pandang psikologis, kepercayaan diri yang autentik tidak berarti merasa lebih unggul daripada orang lain, tetapi justru merasa puas dengan apa yang dimiliki diri sendiri.

Makin tua seseorang, semakin sering mereka merasa damai, lebih asli, serta lebih bisa menerima diri sendiri dengan cara yang sebenarnya. Mereka tak lagi mencari ke sempurnaan, tetapi fokus pada perkembangan pribadi.

Akhirnya, indikator utama seseorang yang mulai lebih percaya diri tidak ditentukan oleh suara yang paling lantang atau gaya berpakaian yang paling mencuri perhatian, namun adalah kecakapan dalam menjalani hidup dengan damai, membuat batasan yang wajar, menerima kekurangan, serta memandang diri sendiri secara positif tanpa harus selalu mendapatkan persetujuan dari orang lain.

Kadang-kadang, rasa percaya diri yang paling besar tidak selalu tampak jelas, tetapi muncul secara perlahan melalui berbagai pengalaman dalam hidup serta ketenangan pikiran yang diperoleh seiring dengan bertambahnya umur.