Ants.CO, JAKARTA - Mentri Pertanian Negara Kesatuan Republik Indonesia (Mentan RI), Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa persediaan beras nasional pada masa kini dalam keadaan stabil serta siap didistribusikan.
Dari keseluruhan persediaan beras nasional yang berjumlah sekitar 5,3 juta ton, hanya 3.619 ton saja yang rusak, sedangkan bagian besar masih dalam kondisi baik karena adanya pengawasan serta tindakan dari pihak pemerintah.
Pernyataan itu dilontarkan Menteri Pertanian Amran saat menghadiri pertemuan dengan Komite IV DPR RI di Jakarta pada hari Rabu (10/6/2026), merespons permintaan Ketua Komite IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi dikenal sebagai Titiek Soeharto tentang pentingnya mempercepat distribusi persediaan beras guna mencegah penurunan mutu, khususnya bagi beras yang sudah disimpan selama lebih dari setahun.
"Di Jawa Timur jumlah persediaannya mencapai 1,4 juta ton dengan 400 ribu ton yang sudah disimpan selama lebih dari setahun (dalam gudang). Jadi mohon perhatian kembali terhadap persedian tersebut agar dapat bergerak lebih cepat," ujar Titiek Soeharto.
Merespons hal tersebut, Menteri Pertanian Amran menyampaikan bahwa pemerintah lebih memilih transparan dalam menjelaskan situasi persediaan beras serta segera melakukan tindakan perbaikan apabila ditemukan penurunan mutu di lapangan.
Dia juga sudah menginstruksikan Perum Bulog agar menyampaikan situasi yang sesungguhnya.
"Kami telah memanggil Direktur Utamanya. (Saya berkata kepada Dirut), ini bukanlah tindakan Bapak sendiri, karena masalahnya adalah milik saya. Jelaskan secara rinci kerusakannya berapa jumlahnya, Anda harus bersifat transparan. Kerusakan sebesar 3.619 ton tersebut hanya sejumlah nol koma nol beberapa persen saja. Lalu, hal ini butuh perhatian khusus, ada dua kemungkinan, yaitu masih dapat diproses dan diperbaiki sebanyak 93.488 ton. Sebagian besar dari itu masih mungkin diperbaiki," ujar Menteri Pertanian Amran.
Berdasarkan informasi yang disampaikan pada pertemuan tersebut, jumlah persediaan beras nasional kini telah mencapai 5.305.594 ton.
Sebanyak 93.488 ton, yaitu 1,76 persen dari total, termasuk dalam kategori beras dengan mutu menurun yang masih bisa diproses ulang agar kualitasnya kembali memenuhi standar distribusi.
Pemerintah juga menjamin bahwa tidak ada beras dengan kualitas rendah atau beras yang mengalami penurunan mutu yang perlu dibuang (disposal).
Beras kelas C yang rusak karena bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, khususnya banjir di Aceh, mencapai jumlah 3.619 ton.
Menteri Amran menyebutkan bahwa sedikit sekali beras yang tak bisa diperbaiki masih mungkin digunakan sebagai tepung beras, sehingga tetap mempunyai nilai ekonomis.
"Tetapi jika tidak, mungkin 10 persen atau sekitar 9.000 ton (dari total 93.488 ton) dapat digunakan sebagai tepung dengan harga yang baik. Oleh karena itu, kami perlu bersikap jujur dan transparan," katanya.
Dia menyampaikan bahwa pihaknya juga menemui sejumlah kasus beras yang memiliki mutu tidak memadai selama melakukan inspeksi lapangan.
"Kami menemukan sesuatu seperti yang Bunda sampaikan tadi di wilayah tersebut, saat melakukan survei langsung kami menghubungi Bulog dan berlangsung pergantian pada hari yang sama, lantaran mutu berasnya tidak baik. Namun jumlahnya sedikit. Kami meminta Bulog untuk lebih waspada mulai sekarang," ujarnya.
Dia menyatakan bahwa situasi saat ini justru menggambarkan keberhasilan pemerintah dalam memperbesar produksi serta persediaan beras nasional.
Menurutnya, masalah mutu dalam sejumlah kecil persediaan tidak bisa dipisahkan dari jumlah besar beras yang berhasil dikuasai oleh pemerintah.
"Sudah separuh hidup bekerja. Syukur masih ada yang rusak karena berasnya tersedia. Dulu tidak rusak karena kekurangan beras, sehingga beras impor masuk," katanya dengan tegas.
Agar meningkatkan kemampuan penyimpanan, kini sedang dikembangkan 100 lokasi gudang canggih dengan nilai investasi sebesar Rp 5 triliun yang sudah mendapat izin.
Gudang ini dibuat dengan kemampuan mempertahankan mutu beras selama dua hingga tiga tahun.
"Kami membangun gudang dengan total nilai mencapai Rp 5 triliun yang terdiri atas 100 titik lokasi, telah mendapat persetujuan dan saat ini dalam proses pembangunan. Gudang tersebut mampu menyimpan beras selama dua hingga tiga tahun, bahkan jika diperbandingkan dengan sistem di Tiongkok, penyimpanannya dapat berlangsung lebih lama lagi. Dengan demikian, sistem penyimpanan menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sistem ini cukup canggih," ujar Menteri Pertanian Amran. (*)
0 Komentar